KARAWANG, JABAR | GEMAPROKLAMASI.COM — Jasa para pahlawan yang telah gugur dalam perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia tidak boleh hilang ditelan zaman. Semangat itulah yang terus dipegang H. Darwis, Ketua Umum Paguyuban Tugu Kebulatan Tekad Rengasdengklok, dalam menjaga dan merawat situs bersejarah tersebut.
Bagi H. Darwis, Tugu Kebulatan Tekad bukan sekadar bangunan atau tempat yang memiliki nilai sejarah. Tugu tersebut merupakan salah satu pengingat bagi generasi penerus tentang keberanian dan pengorbanan para pejuang bangsa yang rela mempertaruhkan jiwa dan raganya demi Indonesia merdeka.
Karena itu, setiap tahun kepeduliannya terhadap keberadaan situs tersebut terus diwujudkan melalui kegiatan perawatan, pengecatan, pembersihan hingga pembenahan lingkungan sekitar tugu.
Pada 2026 ini, H. Darwis bersama Paguyuban Tugu Kebulatan Tekad kembali melakukan berbagai pembenahan. Langkah tersebut dilakukan agar kawasan tugu tetap terawat, tidak terbengkalai dan dapat terus dikenang oleh masyarakat, khususnya generasi muda.
“Kapan lagi kita bisa merawat, memelihara dan melestarikan? Orang tua kita dulu berjuang untuk merebut kemerdekaan. Masa kita yang menjadi penerus tidak bisa merawatnya,” ujar H. Darwis, Rabu (30/9/2026).
Menurutnya, generasi sekarang dapat menikmati kemerdekaan bukan secara cuma-cuma. Ada pengorbanan para pejuang yang harus dihormati dan dikenang.
Ia berharap keberadaan Tugu Kebulatan Tekad dapat menjadi sarana edukasi sejarah sehingga anak-anak muda mengetahui bahwa kemerdekaan Indonesia memiliki perjalanan panjang yang diwarnai perjuangan, pengorbanan, bahkan gugurnya para pahlawan.
“Jangan sampai anak cucu kita nanti tidak tahu sejarah. Jangan sampai situs seperti ini hilang atau punah karena tidak ada yang merawat. Kita harus menjaga agar generasi muda tetap bisa melihat dan mengenang perjuangan para pendahulu kita,” tegasnya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dari Kubangan Lumpur, Kini Mulai Dibenahi
Kepedulian terhadap situs bersejarah tersebut tidak hanya diwujudkan melalui kata-kata. H. Darwis bersama paguyuban melakukan pembenahan terhadap sejumlah bagian kawasan tugu yang sebelumnya mengalami kondisi becek dan berlumpur.
Salah satu pembenahan dilakukan dengan pemasangan keramik sepanjang kurang lebih 120 meter serta pengurugan menggunakan sekitar 12 mobil bak mini.
“Dari kubangan lumpur kemudian kita keramik sekitar 120 meter dan dilakukan pengurugan. Alhamdulillah sekarang tidak becek lagi. Semoga apa yang kita tanam hari ini nantinya mendapatkan hasil yang baik,” ungkapnya.
Pembenahan tersebut diharapkan membuat kawasan Tugu Kebulatan Tekad menjadi lebih nyaman bagi masyarakat yang datang sekaligus lebih layak sebagai tempat untuk mengenang sejarah perjuangan bangsa.
Fasilitas Umum untuk Masyarakat
Selain melakukan perawatan kawasan, sejumlah fasilitas pendukung juga mulai dilengkapi. Melalui dukungan Corporate Social Responsibility (CSR) Rumah Sakit Hastien, telah direalisasikan fasilitas berupa mushola, tempat wudu dan MCK.
Keberadaan fasilitas tersebut diharapkan semakin memberikan kenyamanan bagi masyarakat maupun pengunjung yang datang ke kawasan Tugu Kebulatan Tekad.
Paguyuban Tugu Kebulatan Tekad menyampaikan apresiasi kepada pihak Rumah Sakit Hastien atas dukungan yang diberikan.
Menjaga Sejarah, Menghargai Pengorbanan Pahlawan
H. Darwis menegaskan, upaya merawat Tugu Kebulatan Tekad bukan untuk kepentingan pribadi. Menurutnya, menjaga situs sejarah merupakan bagian dari tanggung jawab moral sebagai generasi penerus bangsa.
“Kita sebagai anak bangsa wajib memelihara, merawat dan melestarikan. Walaupun kita memiliki SK dan membantu di sana, kita tidak digaji pemerintah. Kita juga tidak pernah merugikan siapa pun dan tidak pernah merusak aset negara maupun fasilitas umum,” katanya.
Ia berharap pemerintah, masyarakat, tokoh pemuda, dunia pendidikan dan seluruh elemen masyarakat dapat bersama-sama menjaga situs sejarah tersebut.
Menurutnya, pembangunan bangsa tidak hanya berbicara tentang masa depan, tetapi juga bagaimana generasi sekarang menghargai sejarah dan pengorbanan orang-orang yang telah mendahului.
“Kalau kita tidak menjaga sejarah, bagaimana anak cucu kita akan mengenal perjuangan para pahlawan? Mereka harus tahu bahwa kemerdekaan ini diperoleh dengan pengorbanan yang luar biasa,” ujarnya.
H. Darwis berharap Tugu Kebulatan Tekad Rengasdengklok dapat terus berdiri dan terawat hingga puluhan bahkan ratusan tahun mendatang. Dengan demikian, generasi muda tidak hanya mendengar cerita tentang perjuangan kemerdekaan dari buku, tetapi juga dapat datang langsung ke situs sejarah dan merasakan nilai perjuangan yang terkandung di dalamnya.
Baginya, merawat situs sejarah berarti merawat ingatan bangsa. Sebab ketika sejarah dijaga, jasa para pahlawan yang telah gugur dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia akan tetap hidup dalam ingatan generasi penerus.
Reporter: A. Widaswara















Komentar