77 Siswa Pelita Bangsa Cirebon Dikenalkan Teknologi Air Hujan di Yogyakarta, Bekal Hadapi Ancaman Krisis Air

- Penulis

Jumat, 2 Oktober 2026 - 00:24 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif
+ Donasi

Yogyakarta | GEMAPROKLAMASI.COM — Sebanyak 77 siswa dan enam guru dari Satuan Pendidikan SMP-SMA Pelita Bangsa yang berlokasi di Jalan Terusan Arafuru, Kompleks Taman Cipto, Cirebon, Jawa Barat, mengikuti perjalanan edukasi ke Sekolah Air Hujan Banyu Bening, Tempursari, Sardonoharjo, Kapanewon Ngaglik, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Kamis (1/10/2026).

Rombongan yang menggunakan dua bus tersebut disambut hangat oleh Founder Sekolah Air Hujan Banyu Bening, Sri Wahyuningsih, bersama Kepala Sekolah Air Hujan Banyu Bening, Kamaludin atau yang akrab disapa Bang Udin.

Sebelum kegiatan pembelajaran dimulai, seluruh peserta menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dengan penuh khidmat. Selanjutnya, Mediana Kareem, S.Hum., M.Pd., selaku Koordinator Acara dari Sekolah Pelita Bangsa, menyampaikan sambutan terkait tujuan kunjungan belajar tersebut.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Mediana menjelaskan, kunjungan ini menjadi bagian dari mitigasi terhadap isu krisis air global yang diperkirakan akan menjadi tantangan serius pada tahun 2030. Melalui pembelajaran pemanfaatan air hujan, para siswa diharapkan memahami bahwa air hujan dapat dikelola untuk memenuhi kebutuhan air bersih sehari-hari sekaligus menjadi salah satu langkah adaptasi terhadap perubahan iklim yang mulai dirasakan bersama.

Pembelajaran kemudian disampaikan langsung oleh Sri Wahyuningsih. Dengan suasana interaktif, Bu Ning mengawali materi dengan bertanya kepada para siswa, “Apakah kalian pernah kehujanan?”
“Pernah,” jawab siswa-siswi serentak.
“Air hujannya sempat tertelan?” tanya Bu Ning kembali.
“Iya,” jawab mereka.
“Baik-baik saja kan sampai detik ini?” lanjutnya.
“Baik,” jawab siswa-siswi serentak.
Sri Wahyuningsih kemudian memperkenalkan konsep 5M, yaitu menampung, mengolah, minum, menabung dan mandiri. Dalam proses penampungan air hujan, peserta diberikan pemahaman mengenai pentingnya Standar Operasional Prosedur (SOP), di antaranya tidak langsung menampung air ketika hujan deras mulai turun.
Hujan dengan intensitas deras dianjurkan untuk dilewatkan terlebih dahulu sekitar 5–15 menit. Setelah itu, air hujan dapat ditampung secara manual maupun menggunakan teknologi yang diperkenalkan dengan nama ISLAH (Instalasi Sistem Lumbung Air Hujan).

Baca Juga:  H. Darwis Rawat Tugu Kebulatan Tekad, Agar Jasa Pahlawan Tak Hilang Ditelan Zaman

Tidak hanya teori, para siswa juga diperkenalkan dengan proses yang disebut elektrolisa untuk mengolah air hujan. Proses tersebut disaksikan langsung di dalam ruangan pembelajaran dan para peserta juga diberi kesempatan merasakan air yang telah melalui proses tersebut.

Selain pemanfaatan air hujan untuk kebutuhan sehari-hari, peserta juga mendapatkan pemahaman mengenai pentingnya memasukkan kembali air hujan ke dalam tanah. Hal tersebut dapat dilakukan melalui berbagai cara, antara lain sumur resapan, biopori dan metode konservasi air lainnya.

Kegiatan edukasi ini diharapkan mampu mendorong siswa-siswi Pelita Bangsa untuk tidak hanya memahami teori, tetapi juga mengeksplorasi dan mempraktikkan pemanfaatan air hujan ketika musim hujan tiba. Upaya tersebut diharapkan dapat memberikan manfaat bagi lingkungan sekolah maupun masyarakat di sekitarnya.

Pembelajaran di Sekolah Air Hujan Banyu Bening menjadi salah satu upaya mengenalkan generasi muda terhadap pentingnya menjaga ketersediaan air. Dengan memahami cara menampung, mengolah dan mengembalikan air hujan ke dalam tanah, para siswa diharapkan memiliki kepedulian lebih besar terhadap lingkungan sekaligus kesiapan menghadapi tantangan ketersediaan air di masa mendatang.

Sumber : @AndiSuka_2026

Reporter: A Widaswara

Follow WhatsApp Channel gemaproklamasi.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

ASkun Desak Bupati Karawang Sidak Eks Pabrik Beesco, Empat Perusahaan Diduga Alih Fungsi Site Plan Tanpa Kejelasan Izin
H. Darwis Rawat Tugu Kebulatan Tekad, Agar Jasa Pahlawan Tak Hilang Ditelan Zaman
Komandan Jaga Pantau Situasi Keamanan, Layanan dan Pengamanan di Lapas Kelas IIB Pasir Pangarayan Tetap Kondusif
SMPN 7 Karawang Barat Raih Juara 3 Kun Championship Arena Season 2
Bantuan Benih Padi Mengalir ke Bayongbong, Kadistan Garut Dorong Petani Bangkit dari Dampak Kekeringan
Warga Tersengat Listrik di Atas Pohon, TNI-Polri Turun ke TKP
Warga Regency Keluhkan Kabel WiFi yang Semrawut
DRAMA UTANG PINJOL! Dua Korban Periksa Polisi, Bidan NA Dilaporkan Rugikan Rp207 Juta Lebih
Berita ini 2 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Jumat, 2 Oktober 2026 - 00:24 WIB

77 Siswa Pelita Bangsa Cirebon Dikenalkan Teknologi Air Hujan di Yogyakarta, Bekal Hadapi Ancaman Krisis Air

Kamis, 1 Oktober 2026 - 09:00 WIB

ASkun Desak Bupati Karawang Sidak Eks Pabrik Beesco, Empat Perusahaan Diduga Alih Fungsi Site Plan Tanpa Kejelasan Izin

Kamis, 1 Oktober 2026 - 01:00 WIB

H. Darwis Rawat Tugu Kebulatan Tekad, Agar Jasa Pahlawan Tak Hilang Ditelan Zaman

Rabu, 30 September 2026 - 13:00 WIB

Komandan Jaga Pantau Situasi Keamanan, Layanan dan Pengamanan di Lapas Kelas IIB Pasir Pangarayan Tetap Kondusif

Rabu, 30 September 2026 - 00:27 WIB

Bantuan Benih Padi Mengalir ke Bayongbong, Kadistan Garut Dorong Petani Bangkit dari Dampak Kekeringan

Berita Terbaru