Yogyakarta | GEMAPROKLAMASI.COM — Sebanyak 77 siswa dan enam guru dari Satuan Pendidikan SMP-SMA Pelita Bangsa yang berlokasi di Jalan Terusan Arafuru, Kompleks Taman Cipto, Cirebon, Jawa Barat, mengikuti perjalanan edukasi ke Sekolah Air Hujan Banyu Bening, Tempursari, Sardonoharjo, Kapanewon Ngaglik, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Kamis (1/10/2026).
Rombongan yang menggunakan dua bus tersebut disambut hangat oleh Founder Sekolah Air Hujan Banyu Bening, Sri Wahyuningsih, bersama Kepala Sekolah Air Hujan Banyu Bening, Kamaludin atau yang akrab disapa Bang Udin.
Sebelum kegiatan pembelajaran dimulai, seluruh peserta menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dengan penuh khidmat. Selanjutnya, Mediana Kareem, S.Hum., M.Pd., selaku Koordinator Acara dari Sekolah Pelita Bangsa, menyampaikan sambutan terkait tujuan kunjungan belajar tersebut.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Mediana menjelaskan, kunjungan ini menjadi bagian dari mitigasi terhadap isu krisis air global yang diperkirakan akan menjadi tantangan serius pada tahun 2030. Melalui pembelajaran pemanfaatan air hujan, para siswa diharapkan memahami bahwa air hujan dapat dikelola untuk memenuhi kebutuhan air bersih sehari-hari sekaligus menjadi salah satu langkah adaptasi terhadap perubahan iklim yang mulai dirasakan bersama.
Pembelajaran kemudian disampaikan langsung oleh Sri Wahyuningsih. Dengan suasana interaktif, Bu Ning mengawali materi dengan bertanya kepada para siswa, “Apakah kalian pernah kehujanan?”
“Pernah,” jawab siswa-siswi serentak.
“Air hujannya sempat tertelan?” tanya Bu Ning kembali.
“Iya,” jawab mereka.
“Baik-baik saja kan sampai detik ini?” lanjutnya.
“Baik,” jawab siswa-siswi serentak.
Sri Wahyuningsih kemudian memperkenalkan konsep 5M, yaitu menampung, mengolah, minum, menabung dan mandiri. Dalam proses penampungan air hujan, peserta diberikan pemahaman mengenai pentingnya Standar Operasional Prosedur (SOP), di antaranya tidak langsung menampung air ketika hujan deras mulai turun.
Hujan dengan intensitas deras dianjurkan untuk dilewatkan terlebih dahulu sekitar 5–15 menit. Setelah itu, air hujan dapat ditampung secara manual maupun menggunakan teknologi yang diperkenalkan dengan nama ISLAH (Instalasi Sistem Lumbung Air Hujan).
Tidak hanya teori, para siswa juga diperkenalkan dengan proses yang disebut elektrolisa untuk mengolah air hujan. Proses tersebut disaksikan langsung di dalam ruangan pembelajaran dan para peserta juga diberi kesempatan merasakan air yang telah melalui proses tersebut.
Selain pemanfaatan air hujan untuk kebutuhan sehari-hari, peserta juga mendapatkan pemahaman mengenai pentingnya memasukkan kembali air hujan ke dalam tanah. Hal tersebut dapat dilakukan melalui berbagai cara, antara lain sumur resapan, biopori dan metode konservasi air lainnya.
Kegiatan edukasi ini diharapkan mampu mendorong siswa-siswi Pelita Bangsa untuk tidak hanya memahami teori, tetapi juga mengeksplorasi dan mempraktikkan pemanfaatan air hujan ketika musim hujan tiba. Upaya tersebut diharapkan dapat memberikan manfaat bagi lingkungan sekolah maupun masyarakat di sekitarnya.
Pembelajaran di Sekolah Air Hujan Banyu Bening menjadi salah satu upaya mengenalkan generasi muda terhadap pentingnya menjaga ketersediaan air. Dengan memahami cara menampung, mengolah dan mengembalikan air hujan ke dalam tanah, para siswa diharapkan memiliki kepedulian lebih besar terhadap lingkungan sekaligus kesiapan menghadapi tantangan ketersediaan air di masa mendatang.
Sumber : @AndiSuka_2026
Reporter: A Widaswara
















Komentar